Iya, akhirnya bisa nonton
langsung juga. Nonton lautan manusia aja sih tapinya. Gak bisa liat ritual adat di panggung, apalagi yang di laut.
Well, apa sih tuh Mappanretasi?
Jadi, Mapparentasi adalah tradisi
suku Bugis di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
Secara harfiah, mapparentasi
artinya makan siang. Secara istilah, berarti selamatan di atas laut dengan
melarung sesajen sebagai wujud rasa syukur para nelayan.
Mappanretasi biasanya diadakan pada
minggu keempat bulan April atau di akhir musim ikan. Semacam tutup buka tahun
gitulah.
Berterimakasih atas hasil tangkapan yang melimpah selama setahun ke
belakang, dan berharap setahun ke depan lebih baik lagi.
Biasanya rangkaian acara
Mappanretasi berlangsung sebulan penuh. Berpusat di Pantai Pagatan, Kecamatan
Kusan Hilir.
Diawali dengan pameran dan parade budaya berbagai etnis, diakhiri
pawai kapal hias dan prosesi Mappanretasi-nya atau memberi makan laut.
Tapi
berhubung Pemilu, Mappanretasi tahun ini cuma digelar dua minggu lebih dikit,
mulai 12 April sampe 27 April 2014.
Udah dari jauh-jauh hari saya
catet tanggal acara puncak Mappanretasi. Kebetulan ada temen lagi galau, saya suruh aja maen-maen ke Kotabaru sekalian liat
Mappanretasi. Jadilah saya punya temen jalan.
As always, banyak kejadian gak terduga, hehehe…
Acara puncak Mappanretasi digelar
dua hari, 26-27 April. Temen yang dimintain tolong nyarikan tempat buat numpang tidur semalam gak bertanggung jawab. Nyaris aja kita nenda di pantai, hahaha…
Untungnya, seorang kenalan yang sebelumnya gak bisa dihubungi mendadak
hp-nya aktif.
FYI, semua penginapan di sekitar Pantai Pagatan memasang pengumuman "PENUH" selama Mappanretasi.
Hari pertama pas tanggal 26 itu gak ada acara apa-apa.
Kita cuma ngider-ngider di venue sambil liat pengisi acara gladi resik.
Malemnya ada konser band Kotak, tapi kita udah capek banget dan milih
istirahat buat acara puncak besoknya.
Sebelum menuju rumah si
kenalan, kita ngisi perut dulu di warung soto di luar arena Mappanretasi biar hemat. Kejadian gak terduga kedua, kita ditraktir sama seorang
anggota polisi cuma gara-gara ngeladeni ngobrol, ahaha...
Malah ditawari tempat nginep segala, sayang jauh. Ada sih yang deket, tapi asal mau dempet-dempetan di mobil patroli, hihihi...
Anyway saya gak pernah tau rumah si kenalan ini.
Surprisingly rumahnya deket pantai di daerah Pasar Baru, bisa jalan kaki kira-kira 15 menit.
Lumayan gak perlu bawa motor dan bayar parkir Rp 10 ribu, fiuh... Plus, kita dapet tempat tidur yang enak banget. Walaupun gak ada kamar
mandinya, hihihi…
![]() |
| Pemandangan pagi di depan rumah : ) |
Hari kedua tanggal 27 adalah puncak dari rangkaian acara Mappanretasi, yakni Mappanretasi itu sendiri alias melarung sesajen ke laut. Ada banyak ritual sebelum sampe ke laut.
Saya gak gitu hafal. Yang jelas pertama-tama para tetua adat ngumpul di panggung melakukan upacara. Baru setelah itu naik ke kapal menuju ke tengah laut untuk melarung berbagai sesajen.
Asli, kita gak bisa liat sama sekali apa yang terjadi di panggung. Ketutup sama pengunjung yang gak bisa diatur. Apalagi yang terjadi di laut, gak semua orang punya akses untuk ikut naik ke kapal. Udah muter otak nyari siasat supaya bisa naik, tapi gak berhasil.
Dari semua yang terlewat, mungkin ini kali ya yang paling disayangkan... Bendera enteng jodoh 😘😘😘
Katanya ini bendera khas Mappanretasi. Buat dibagi-bagiin ke pengunjung. Supaya yang punya hajat terkabul. Termasuk buat yang lambat menikah.
Kita langsung liat-liatan. Sengaja banget kita berdiri deket-deket tenda tempat bendera-bendera ini ditaruh. Tapi diusir sama panitianya, katanya nunggu kapal-kapal balik dulu baru benderanya dibagi ahahaha... Lucu-lucuan aja sih sebenernya, gak percaya juga.
Makanya, kita gak sampe nunggu pembagian bendera, langsung cus ke Kotabaru, takut kemaleman. Dari Pantai Pagatan ke Pelabuhan Feri Batulicin itu gak jauh-jauh banget, sekitar setengah jam. Terkaget-kaget, feri yang kita tumpangi penuh bingits! Baru pertama kali saya naik feri harus ngantre sampe kapal yang kedua.
Turun dari feri, kita disambut hujan. Begitu juga hari besoknya, hujan melulu. Tapi untung saya sempet nganter temen saya itu ke semua tempat wisata yang ada di kota.
Pantai Gedambaan, Pantai Teluk Gosong, Komplek Makam Raja Sigam, Siring Laut, klenteng belakang kantor bupati yang saya gak inget namanya, Mesjid Raya, dan Taman Suryagandama. Minus Air Terjun Tumpang Dua. Terakhir beli oleh-oleh deh.
Besoknya, si temen pulang ke Banjarmasin. Pengalaman pertama naik bus sendiri katanya. Di tengah jalan dia BBM, katanya rekomendasi saya soal kursi nomor empat gak salah, hehe...
Yes, pengalaman memang mengajarkan segalanya. Pengalaman juga yang ngajari saya bahwa posisi terbaik di bus ekonomi dalam sebuah perjalanan panjang itu adalah di kursi nomor empat.
Dekat kipas angin di dasbor sopir dan pas di bawah bukaan atap mobil, adeeeeem... Trust me!
Last, semoga liburanmu gak mengecewakan ya teman... Dan galaumu hilang, ahaha...

Komentar
Posting Komentar